Mungkin lebih tepatnya bicaralah disaat yang tepat . Karena pemahaman kalimat, " Diam adalah emas", terkadang disalah artikan ataupun salah dalam pemahaman. Karena yang dimaksut "diam adalah emas", adalah kita diam jika memang saatnya tidak tepat. Saat waktunya sudah tepat, kita tetap harus membicarakan hal yang harus kita bicarakan, karena jika tidak kita bicarakan ataupun diskusikan tidak akan ada penyelesaian maupun titik temu yang diharapkan dapat menyelesaikan masalah.
Hanya saja bicara yang bermanfaat dan berbobot adalah berbicara dengan didasari pertimbangan-pertimbangan yang tentunya bisa dipertanggungjawabkan. Jika kita asal bicara sudah dipastikan tidak akan menyelesaikan pokok permasalahan malah terkadang justru menimbulkan permasalahan baru yang tidak kita harapkan.
Kritik dan saran yang disampaikan oleh kita semua merupakan cara pandang yang bisa kita analisis menurut kaca mata kita. JIka kita diskusikan dengan analisa yang tepat tentunya akan dicapai suatu kesimpulan yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan.
Tidak ada yang merasa tersinggung dalam kontek yang diharapkan. Karena jika kita tidak mengedepankan egoisme masing-masing individu, ketersinggungan ini tidak akan terjadi, karena kita semua terbuka terhadap kritik dan saran.
Dengan kesadaran dan pemahaman yang kita yakini tentunya kita akan berusaha introspeksi diri jika kita menyadari bahwa memang apa yang kita yakini "harus kita perbaiki", dan tentunya jika kita meyakini pemahaman kita benar, kita akan berusaha memberikan argumentasi yang bisa dipertanggung jawabkan.
Jika kita saling terbuka dan bisa menerima kekurangan masing-masing dan mau dengan "berani mengakui" jika kita salah. Tentunya tidak akan hati yang tersakiti. Karena kita memang menyadari bahwa kita pantas untuk diperbaiki.
Saling mengisi diantara kita semua pasti dapat menciptakan dan melahirkan hal-hal baru yang lebih sempurna. Seperti halnya kita diciptakan dengan segala kekurangan dan kelebihan masing-masing. Hal itu memiliki tujuan dan hikmah bahwasannya kita diharapkan untuk bisa saling mengisi dan melengkapi sehingga tercipta tali silahturahmi dan kepedulian diantara kita semua.
Memang Tuhan YME tidak pernah salah dalam memberikan suatu hikmah maupun dalam menciptakan segala hal yang ada didunia ini. Jika kita telaah dengan seksama pastilah memiliki makna yang sangat dalam dan pasti menuju arah yang lebih baik.
Hanya saja terkadang ke-ego-an kita seringkali mengalahkan kita, karena merasa gengsi. Tetapi saya yakin jika kita bisa saling "INTROSPEKSI DIRI" tidak akan menimbulkan ketersinggungan yang nantinya bisa menimbulkan riak-riak dimana tidak menutup kemungkinan akan menjadi ombak yang sangat mematikan. Karena kita telah membenahi diri kita sendiri dulu, sebelum kita "usil" dengan urusan orang lain.
Bagaimana kita akan menjadi panutan, jika kita hanya bisa bicara tetapi tidak bisa memberikan contoh nyata pada diri kita pribadi. Jika kita padukan dengan sosok "PEMIMPIN", pemimpin akan selalu menjadi panutan pengikutnya, karena pengikut tidak akan memberontak dan protes jika pemimpin senantiasa memberikan tauladan yang memang pantas untuk ditiru.
Penghargaan dan kepedulian akan datang dengan sendirinya tanpa diminta jika pemimpinnya bisa menunjukkan " Jiwa pemimpin" yang sebenarnya. Tidak perlu pemimpin bersusah payah mengatur pengikutnya jika "contoh nyata" bisa ditunjukkan oleh seorang pemimpin. Kalaupun ada "kebandelan" , dengan mudah pemimpin akan didukung oleh pengikutnya yang "lurus" untuk memperbaiki penyimpangan tadi.
Semoga kita senantiasa bisa saling introspeksi diri dan bisa mengedepankan kepentingan bersama demi keadilan dan kemakmuran bersama. SEMOGA....
Create, Chi Trielia Cho, 270112
